Features Title Here. Consectetur adipisicing

Features Content Here. Sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

Teknik Bertanya pada Kelas IPA

Rabu, 25 Maret 2015

Bertanya dalam proses belajar mengajar merupakan salah satu keterampilan operasional yang harus dimiliki guru, mengingat sebagian besar proses belajar mengajar di kelas dipergunakan guru untuk mengajukan pertanyaan.
Beberapa alasan mengapa keterampilan bertanya sangat penting dikembangkan oleh setiap guru, antara lain: 1) Guru pada umumnya sering menggunakan metode ceramah dalam mengajar sehingga murid menjadi pasif; 2) Untuk mengatasi kendala latar belakang budaya yang membuat murid tidak terbiasa mengajukan pertanyaan; 3) untuk meningkatkan kemampuan murid dalam mengemukakan gagasan (Haryanto, 2011)

Bertanya dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa dalan pembelajaran IPA. Bagi siswa sendiri kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran berbasis inkuiri yaitu menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahuinya. Oleh karena itu dipandang perlu untuk membahas suatu teknik atau stragegi bertanya dalam pembelajaran IPA.

A.    Pentingnya  Bertanya dalam Pembelajaran IPA
Sekolah Dasar ataupun Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, bidang studi IPA mempunyai tujuan agar siswa diharapkan memahami konsep-konsep IPA dan saling keterkaitannya, mampu menerapkan metode ilmiah, dan mampu bersikap ilmiah dalam memecahkan masalah dengan menyadari kebesaran Tuhan Yang Maha Pencipta. Dedi purwanto (2008) mengemukakan beberapa tujuan mata pelajaran IPA yang diharapkan pada peserta didik sebagai berikut: 1) Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Pencipta berdasarkan keberadaan, keindahan, dan keteraturan alam ciptaan-Nya, 2) Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, 3) Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif, dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi dan masyarakat, dan 4) Mengembangkan ketrampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan.  Sedangkan menurut Roth & Roychoudhury (1993) tugas penting dalam pendidikan sains adalah membantu mengembangkan ketrampilan berpikir IPA
Aktivitas verbal adalah salah satu aktivitas kelas yang paling sering ditemui dalam proses pembelajaran. Kegiatan ini digunakan dengan tujuan memperlancar kegiatan pembelajaran. Metode tanya jawab banyak digunakan dalamproses pembelajaran di sekolah. Kegiatan tanya jawab dalam pembelajaran IPA digunakan untuk mengetahui atau mengecek pemahaman peserta didik mengenai suatu konsep dan merangsang peserta didik untuk berfikir kritis serta memperoleh umpan balik. Melalui penerapan metode tanya jawab, baik guru guru maupun peserta didik sama sama aktif, namun perlu diperhatikan dengan baik agar pemanfaatan metode tanya jawab dalam pembelajaran IPA lebih bermakna (Nurhayati, 2011). Lebih jauh beliau mengungkapkan bahwa keterampilan mengajukan pertanyaan yang cocok untuk situasi tertentu perlu disertai persiapan yang memadai, sehingga penerapan metode tanya jawab dalam pembelajaran tidak memperlihatkan usaha coba-coba. Guru perlu mempelajari bagaimana mengajukan pertanyaan tertentu pada situasi tertentu dan bagaimana mengarahkan jawaban perseta didik atau mengarahkan tingkah laku.
Proses pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Peranan guru dalam memfasilitasi siswa untuk mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar dilandasi oleh pemberdayaan siswa dalam membangun kemampuan, bekerja ilmiah dan membangun pengetahuannya sendiri (Supriyadi, 2009). Dari penggambaran tersebut dapat ditekankan bahwa sasaran pembelajaran IPA tidak hanya sekedar dikuasinya pengetahuan IPA oleh siswa, tetapi melalui pembelajaran IPA siswa juga dituntut dapat mengembangkan kemampuan mereka yang meliputi kemampuan bernalar/berpikir rasional, kertampilan proses sains, kemampuan dasar-dasar teknologi, wawasan lingkungan, serta sikap dan nilai. Oleh sebab itu bertanya dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa untuk mengembangkan potensi-potensi yang diharapkan pada  peserta didik.
P.E. Bloser (1973), mengemukakan jika salah satu produk akhir dari pengetahuan ilmiah seperti yang dirumuskan dalam tujuan pendidikan adalah pengembangan individu yang berpikir kritis (menilai dan menganalisa sumber informasi), mampu membedakan antara observasi dan inferensi serta antara sebab dan akibat, maka guru sains harus menggunakan teknik mengajar dan strategi yang membantu dalam proses ini.

B.     Teknik / Stategi Guru dalam Menyusun Pertanyaan yang Baik
Guru sebagai tenaga pendidik dan pengajar perlu memperhatikan beberapa contoh penyusunan pertanyaan yang baik. De Bono (dalam Dedi purwanto, 2008)  kriteria penyusunan pertanyaan yang baik adalah sebagai berikut :
1.      Bahasanya langsung dan sederhana. Pertanyaan yang diajukan kepada siswa itu harus diusahakan agar bahasanya langsung dan sederhana. Pertanyaan itu harus dapat memusatkan perhatian siswa pada inti atau materi pertanyaan.
2.      Maknanya pasti dan jelas. Agar tidak mengacaukan pikiran siswa, maka makna pertanyaan yang diajukan kepada mereka harus pasti dan jelas. Bila sebuah pertanyaan dapat menimbulkan berbagai macam interpretasi, maka bisa menyebabkan siswa enggan menanggapi.
3.      Urutan logik. Pertanyaan itu seyogyanya dapat menyebabkan seseorang berlatih berfikir dengan urutan yang logik.
4.      Pertanyaan harus sesuai dengan kemampuan kelas. Pertanyaan yang kita ajukan kepada siswa dalam suatu kelas harus sesuai dengan tingkat kemampuan kelas itu. Pada waktu guru merencanakan serangkaian pertanyaan untuk diajukan kepada siswa, maka ia harus benar-benar berusaha agar pertanyaannya cocok dengan tingkat kemampuan kelas tersebut. Dengan demikian mengajukan pertanyaan yang telah disesuaikan dengan audiens pada umunya dan siswa pada khususnya, maka komunikasi dapat di tingkatkan.
5.      Pertanyaan yang merangsang usaha. Pertanyaan itu hendaknya dapat membangkitkan usaha siswa. Sementara guru menyusun kerangka pertanyaan agar cocok dengan tingkat kemampuan kelas, ia juga berusaha pula menyiapkan pertanyaan yang cukup sulit untuk membangkitkan usaha siswa. Tetapi harus dijaga agar soal itu tidak terlalu sulit.
6.      Memikat minat siswa. Guru harus berusaha agar pertanyaan yang disusunnya dapat memikat siswa selama pelajaran berlangsung. Pada waktu mengajukan pertanyaan, guru tidak hanya berpusat pada satu orang saja tetapi, giliran harus diberikan secara bergantian anatara siswa yang mengajukan diri secara sukarela dengan yang tidak. Hal ini akan mendorong siswa untuk menaruh perhatian.
Kegiatan belajar mengajar merupakan rangkaian kegiatan yang di dalamnya guru diharuskan mempengaruhi kemampuan intelektual siswa agar dapat berfungsi secara optimal. Menurut Jelly (dalam Dedi Purwanto, 2008) Ada beberapa strategi yang dapat dilakukan oleh guru untuk mendorong siswa bertanya:
1.      Usahakan anak mempunyai kontak langsung dengan bermacam-macam bahan, baik itu disediakan oleh guru maupun yang dibawa sendiri oleh siswa.
2.      Tingkatkan kemampuan bertanya guru sehingga dapat menjadi contoh bagi anak-anak.
3.      Ciptakan suasana yang mendorong anak untuk melakukan percobaan/pengamatan.
4.      Dorong anak untuk merumuskan pertanyaan dan mendiskusikan pertanyaan mereka.
5.      Berikan respon yang positif terhadap pertanyaan anak.
6.      Rumuskan kembali pertanyaan anak yang kurang produktif menjadi pertanyaan produktif, sehingga mendorong anak untuk melakukan percobaan/pengamatan.

C.    Penerapan Teknik Bertanya dalam Pembelajaran IPA
Menurut Nana  sumarna (2010), terdapat tiga aspek penting yang perlu dipertimbangkan dalam mengkontruksi dan mengimplementasikan pertanyaan yang efektif yaitu : a) bentuk, b) waktu; dan c) isi. Ketiga aspek tersebut  dikonstruksi dan berkompigurasi secara efektif dalam pembelajaran. Bentuk dan waktu pertanyaan dalam implementasinya lebih dikenal dengan istilah teknik bertanya yang meliputi empat teknik yaitu :
1.      Teknik jeda/ waktu tunggu
              Waktu yang dibutuhkan sebelum menjawab pertanyaan tersebut dinamakan waktu tunggu (pausing). Carin dan Sund (1978) mendefinisikan waktu tunggu sebagai waktu yang dihitung sejak guru selesai mengajukan pertanyaan sampai menunjuk atau memberi kesempatan kepada murid untuk memikirkan jawaban dari pertanyaan tersebut.
2.      Teknik pengarahan ulang;
              Dalam pengarahan ulang guru mengarahkan satu pertanyaan pada be-berapa murid, dengan tujuan agar lebih banyak murid terlibat dalam proses ber-pikir. Selanjutnya guru memfokuskan pada seorang siswa secara merata. Misalnya guru bertanya, "Coba jelaskan apa saja keuntungan pemasangan rangkai listrik secara paralel di rumah?"
3.      Teknik membimbing/ teknik probing
              Penggunaan teknik probing/beberapa pertanyaan berseri yang terprogram, saling berhubungan dan berkesinambungan agar konpetensi siswa dapat tercapai. Pengertian probing dalam pembelajaran di kelas didefinisikan sebagai suatu teknik membimbing dengan mengajukan satu seri pertanyaan pada seorang siswa. Wijaya (dalam Supriyadi, 2009) menjelaskan teknik probing adalah suatu teknik dalam pembelajaran dengan cara mengajukan satu seri pertanyaan untuk membimbing pebelajar/siswa menggunakan pengetahuan yang telah ada pada dirinya guna memahami gejala atau keadaan yang sedang diamati sehingga terbentuk pengetahuan baru.
Dengan teknik bertanya membimbing, guru mengajukan satu seri pertanyaan pada seorang murid dengan tujuan untuk meningkatkan respon pertama murid itu menuju ke jawaban benar atau lebih luas.
Contoh pertanyaan membimbing:
Guru    :  "Anak-anak, perhatikanlah gelas berisi es di hadapan kalian. Periksalah bagian luarnya, apakah bagian luar gelas, basah?"
Siswa   : "Basah, Pak!"
Guru    : "Dari mana asalnya air yang menempel tersebut?"
Siswa   : "Dari dalam gelas?"
Guru   : " Jika air yang menempel pada dinding luar gelas berasal dari dalam gelas, sekarang Bapak akan tambahkan gula. Bagaimana rasa air yang menempel pada bagian luar gelas tersebut?"
Siswa    : "Manis, pak!!"
Guru     : "Coba kalian rasakan!, benarkah manis?"
Siswa    : "Tidak, Pak!"
Guru     : "Kalau begitu, apakah air berasal dari dalam gelas?"
Siswa   : "Bukan, Pak!"
Guru    : "Dari mana? (siswa tidak ada yang menjawab). Baiklah, apakah kalian masih ingat di udara ini terdapat gas atau uap apa saja?" (Siswa diarahkan agar akhirnya menjawab: ada uap air)
Guru     : "Apakah uap air itu dapat berubah menjadi air? Dengan cara apa?
Siswa    : "Dapat, Pak! Dengan cara didinginkan
Demikian seterusnya guru mengajukan pertanyaan yang harus disusun oleh pembaca, hingga akhirnya siswa mengetahui bahwa air pada dinding luar gelas berasal dari pengembunan uap air karena didinginkan oleh es yang ada di dalamnya

4.      Teknik pelacakan.
Teknik melacak adalah sejumlah seri pertanyaan yang dimaksudkan guru untuk mengetahui sejauh mana penguasaan murid terhadap suatu permasalahan. Pertanyaan melacak diberikan jika jawaban yang diberikan peserta didik masih kurang tepat. Menurut Kusuma wardani (2007) sedikitnya ada tujuh teknik pertanyaan pelacak, yaitu klarifikasi, meminta peserta didik memberi alasan, meminta kesepakatan  pandangan, meminta ketepatan jawaban, meminta jawaban yang lebih relevan, meminta contoh, dan meminta jawaban yang lebih kompleks. Ketujuh hal tersebut dijelaskan berikut ini:
a.       Klarifikasi Jika jawaban yang diajukan peserta didik belum begitu jelas, maka guru dapat melacak jawaban peserta didik dengan pertanyaan lanjutan atau pertanyaan lacakan agar peserta didik tersebut mengungkapkan kembali dengan kalimat lain.
Misalnya :  
Ø  Apakah kamu dapat mengungkapkan kembali dengan kalimat lain ?  
Ø  Apakah kamu dapat mengungkapkannya dengan kalimat yang singkat?
b.      Meminta peserta didik memberikan alasan. Pertanyaan ini diajukan guru untuk meminta peserta didik memberikan alasan terhadap jawaban yang diajukannya. Hal ini dimaksudkan untuk mendukung jawaban yang telah dikemukakannya.
Misalnya :
Ø  Apakah kamu dapat memberikan alasan yang menunjang jawaban tersebut? 
Ø  Apakah kamu dapat memberikan contoh yang menunjang jawaban tersebut? 
Ø  Apakah kamu dapat mengajukan bukti yang mendukung jawaban tersebut?
c.       Meminta kesepakatan jawaban. Pertanyaan ini diajukan kepada peserta didik lain untuk memperoleh kesepakatan bersama tentang jawaban yang telah diajukan.
Misalnya :
Ø  Apakah kalian setuju dengan jawaban Diana ? 
Ø  Siapa yang memiliki pendapat lain ? 
Ø  Siapa yang tidak seruju dengan jawaban tadi ? 
d.      Meminta ketepatan jawaban. Apabila jawaban yang diajukan peserta didik belum mencapai sasaran yang diharapkan, maka guru dapat mengajukan pertanyaan lanjut untuk memperoleh jawaban yang lebih tepat.
Misalnya :
G : Siapakah yang memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia ?
P : Soekarno dan Hatta 
G : Apakah atas namanya sendiri ?
P : Tidak, tetapi atas nama bangsa Indonesia, dan seterusnya. 
e.       Meminta jawaban yang lebih relevan. Jika jawaban yang diajukan oleh peserta didik kurang relevan dengan materi standar, maka guru dapat mengajukan pertanyaan lanjutan memperoleh  jawaban yang lebih relevan.
Misalnya :
G : (Guru baru saja menerangkan masalah banjir yang melanda beberapa wilayah, lalu ia mengajukan pertanyaan kepada peserta didk). Apakah yang menyebabkan terjadinya banjir ?
P : Penjualan kayu kepada oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab
G : Bagaimana hubungan jawabanmu itu dengan banjir yang telah kita  bahas tadi? dan seterusnya . 
f.       Meminta contoh. Jika pertanyaan yang diajukan peserta didik belum jelas maksudnya, maka guru dapat mengajukan pertanyaan lanjutan untuk meminta contoh atau ilustrasi atas jawaban yang diajukannya.
Misalnya :
G : Apakah kamu dapat memberikan contohnya?
Apakah ada peristiwa yang mendukung jawabanmu itu ? dll.
g.      Meminta jawaban yang lebih kompleks. Jika pertanyaan yang diajukan peserta didik masih sederhana, maka guru dapat memberikan pertanyaan lanjutan untuk memperoleh jawaban yang lebih luas.
Misalnya :
Ø  Apakah kamu dapat memberikan jawaban yang lebih luas lagi ?  
Ø  Apakah kamu dapat melengkapi jawabanmu itu ?

DAFTAR PUSTAKA

Dedi Purwanto. 2008. Pemanfaatan Pemodelan Pertanyaan Oleh Guru Untuk Meningkatkan Kemampuan Siswa Dalam Mengajukan Pertanyaan Produktif Untuk Mendukung Pembelajaran Ipa Berbasis Inkuiri. http://dedipurwanto.blogspot.com/



Haryanto. 2011. Keterampilan Bertanya dalam Pembelajaran IPA http://pakteha.blogspot.com/search/label/BERANDA


Kusuma Wardani. 2007. Keterampilan bertanya. http://www.academia.edu/Documents/in/Keterampilan_Bertanya


Nana Sumarna. 2011. Implementasi Penerapan Keterampilan Bertanya Pada Pembelajaran Ipa Di Sekolah Dasar. http://nanasumarna11a.blogspot.com/

 

Nurhayati B, 2011. Strategi Belajar Mengajar. Makassar: Badan Penerbit Universitas Negeri Makassar.


P.E. Bloser. 1973. Hand Book Of Effective Quesstion Techniques. Colombus Ohio. The Ohio State University

 

 

Supriyadi. 2009. Memperkenalkan (kembali) Teknik Probing dalam Pembelajaran IPA di SD/MI. https://apakabarpsbg.wordpress.com/2009/07/




0 komentar:

Poskan Komentar