Features Title Here. Consectetur adipisicing

Features Content Here. Sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.
Tampilkan postingan dengan label Materi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Materi. Tampilkan semua postingan

Teknik Bertanya pada Kelas IPA

Rabu, 25 Maret 2015

Bertanya dalam proses belajar mengajar merupakan salah satu keterampilan operasional yang harus dimiliki guru, mengingat sebagian besar proses belajar mengajar di kelas dipergunakan guru untuk mengajukan pertanyaan.
Beberapa alasan mengapa keterampilan bertanya sangat penting dikembangkan oleh setiap guru, antara lain: 1) Guru pada umumnya sering menggunakan metode ceramah dalam mengajar sehingga murid menjadi pasif; 2) Untuk mengatasi kendala latar belakang budaya yang membuat murid tidak terbiasa mengajukan pertanyaan; 3) untuk meningkatkan kemampuan murid dalam mengemukakan gagasan (Haryanto, 2011)

Bertanya dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa dalan pembelajaran IPA. Bagi siswa sendiri kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran berbasis inkuiri yaitu menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahuinya. Oleh karena itu dipandang perlu untuk membahas suatu teknik atau stragegi bertanya dalam pembelajaran IPA.

A.    Pentingnya  Bertanya dalam Pembelajaran IPA
Sekolah Dasar ataupun Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, bidang studi IPA mempunyai tujuan agar siswa diharapkan memahami konsep-konsep IPA dan saling keterkaitannya, mampu menerapkan metode ilmiah, dan mampu bersikap ilmiah dalam memecahkan masalah dengan menyadari kebesaran Tuhan Yang Maha Pencipta. Dedi purwanto (2008) mengemukakan beberapa tujuan mata pelajaran IPA yang diharapkan pada peserta didik sebagai berikut: 1) Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Pencipta berdasarkan keberadaan, keindahan, dan keteraturan alam ciptaan-Nya, 2) Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, 3) Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif, dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi dan masyarakat, dan 4) Mengembangkan ketrampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan.  Sedangkan menurut Roth & Roychoudhury (1993) tugas penting dalam pendidikan sains adalah membantu mengembangkan ketrampilan berpikir IPA
Aktivitas verbal adalah salah satu aktivitas kelas yang paling sering ditemui dalam proses pembelajaran. Kegiatan ini digunakan dengan tujuan memperlancar kegiatan pembelajaran. Metode tanya jawab banyak digunakan dalamproses pembelajaran di sekolah. Kegiatan tanya jawab dalam pembelajaran IPA digunakan untuk mengetahui atau mengecek pemahaman peserta didik mengenai suatu konsep dan merangsang peserta didik untuk berfikir kritis serta memperoleh umpan balik. Melalui penerapan metode tanya jawab, baik guru guru maupun peserta didik sama sama aktif, namun perlu diperhatikan dengan baik agar pemanfaatan metode tanya jawab dalam pembelajaran IPA lebih bermakna (Nurhayati, 2011). Lebih jauh beliau mengungkapkan bahwa keterampilan mengajukan pertanyaan yang cocok untuk situasi tertentu perlu disertai persiapan yang memadai, sehingga penerapan metode tanya jawab dalam pembelajaran tidak memperlihatkan usaha coba-coba. Guru perlu mempelajari bagaimana mengajukan pertanyaan tertentu pada situasi tertentu dan bagaimana mengarahkan jawaban perseta didik atau mengarahkan tingkah laku.
Proses pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Peranan guru dalam memfasilitasi siswa untuk mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar dilandasi oleh pemberdayaan siswa dalam membangun kemampuan, bekerja ilmiah dan membangun pengetahuannya sendiri (Supriyadi, 2009). Dari penggambaran tersebut dapat ditekankan bahwa sasaran pembelajaran IPA tidak hanya sekedar dikuasinya pengetahuan IPA oleh siswa, tetapi melalui pembelajaran IPA siswa juga dituntut dapat mengembangkan kemampuan mereka yang meliputi kemampuan bernalar/berpikir rasional, kertampilan proses sains, kemampuan dasar-dasar teknologi, wawasan lingkungan, serta sikap dan nilai. Oleh sebab itu bertanya dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa untuk mengembangkan potensi-potensi yang diharapkan pada  peserta didik.
P.E. Bloser (1973), mengemukakan jika salah satu produk akhir dari pengetahuan ilmiah seperti yang dirumuskan dalam tujuan pendidikan adalah pengembangan individu yang berpikir kritis (menilai dan menganalisa sumber informasi), mampu membedakan antara observasi dan inferensi serta antara sebab dan akibat, maka guru sains harus menggunakan teknik mengajar dan strategi yang membantu dalam proses ini.

B.     Teknik / Stategi Guru dalam Menyusun Pertanyaan yang Baik
Guru sebagai tenaga pendidik dan pengajar perlu memperhatikan beberapa contoh penyusunan pertanyaan yang baik. De Bono (dalam Dedi purwanto, 2008)  kriteria penyusunan pertanyaan yang baik adalah sebagai berikut :
1.      Bahasanya langsung dan sederhana. Pertanyaan yang diajukan kepada siswa itu harus diusahakan agar bahasanya langsung dan sederhana. Pertanyaan itu harus dapat memusatkan perhatian siswa pada inti atau materi pertanyaan.
2.      Maknanya pasti dan jelas. Agar tidak mengacaukan pikiran siswa, maka makna pertanyaan yang diajukan kepada mereka harus pasti dan jelas. Bila sebuah pertanyaan dapat menimbulkan berbagai macam interpretasi, maka bisa menyebabkan siswa enggan menanggapi.
3.      Urutan logik. Pertanyaan itu seyogyanya dapat menyebabkan seseorang berlatih berfikir dengan urutan yang logik.
4.      Pertanyaan harus sesuai dengan kemampuan kelas. Pertanyaan yang kita ajukan kepada siswa dalam suatu kelas harus sesuai dengan tingkat kemampuan kelas itu. Pada waktu guru merencanakan serangkaian pertanyaan untuk diajukan kepada siswa, maka ia harus benar-benar berusaha agar pertanyaannya cocok dengan tingkat kemampuan kelas tersebut. Dengan demikian mengajukan pertanyaan yang telah disesuaikan dengan audiens pada umunya dan siswa pada khususnya, maka komunikasi dapat di tingkatkan.
5.      Pertanyaan yang merangsang usaha. Pertanyaan itu hendaknya dapat membangkitkan usaha siswa. Sementara guru menyusun kerangka pertanyaan agar cocok dengan tingkat kemampuan kelas, ia juga berusaha pula menyiapkan pertanyaan yang cukup sulit untuk membangkitkan usaha siswa. Tetapi harus dijaga agar soal itu tidak terlalu sulit.
6.      Memikat minat siswa. Guru harus berusaha agar pertanyaan yang disusunnya dapat memikat siswa selama pelajaran berlangsung. Pada waktu mengajukan pertanyaan, guru tidak hanya berpusat pada satu orang saja tetapi, giliran harus diberikan secara bergantian anatara siswa yang mengajukan diri secara sukarela dengan yang tidak. Hal ini akan mendorong siswa untuk menaruh perhatian.
Kegiatan belajar mengajar merupakan rangkaian kegiatan yang di dalamnya guru diharuskan mempengaruhi kemampuan intelektual siswa agar dapat berfungsi secara optimal. Menurut Jelly (dalam Dedi Purwanto, 2008) Ada beberapa strategi yang dapat dilakukan oleh guru untuk mendorong siswa bertanya:
1.      Usahakan anak mempunyai kontak langsung dengan bermacam-macam bahan, baik itu disediakan oleh guru maupun yang dibawa sendiri oleh siswa.
2.      Tingkatkan kemampuan bertanya guru sehingga dapat menjadi contoh bagi anak-anak.
3.      Ciptakan suasana yang mendorong anak untuk melakukan percobaan/pengamatan.
4.      Dorong anak untuk merumuskan pertanyaan dan mendiskusikan pertanyaan mereka.
5.      Berikan respon yang positif terhadap pertanyaan anak.
6.      Rumuskan kembali pertanyaan anak yang kurang produktif menjadi pertanyaan produktif, sehingga mendorong anak untuk melakukan percobaan/pengamatan.

C.    Penerapan Teknik Bertanya dalam Pembelajaran IPA
Menurut Nana  sumarna (2010), terdapat tiga aspek penting yang perlu dipertimbangkan dalam mengkontruksi dan mengimplementasikan pertanyaan yang efektif yaitu : a) bentuk, b) waktu; dan c) isi. Ketiga aspek tersebut  dikonstruksi dan berkompigurasi secara efektif dalam pembelajaran. Bentuk dan waktu pertanyaan dalam implementasinya lebih dikenal dengan istilah teknik bertanya yang meliputi empat teknik yaitu :
1.      Teknik jeda/ waktu tunggu
              Waktu yang dibutuhkan sebelum menjawab pertanyaan tersebut dinamakan waktu tunggu (pausing). Carin dan Sund (1978) mendefinisikan waktu tunggu sebagai waktu yang dihitung sejak guru selesai mengajukan pertanyaan sampai menunjuk atau memberi kesempatan kepada murid untuk memikirkan jawaban dari pertanyaan tersebut.
2.      Teknik pengarahan ulang;
              Dalam pengarahan ulang guru mengarahkan satu pertanyaan pada be-berapa murid, dengan tujuan agar lebih banyak murid terlibat dalam proses ber-pikir. Selanjutnya guru memfokuskan pada seorang siswa secara merata. Misalnya guru bertanya, "Coba jelaskan apa saja keuntungan pemasangan rangkai listrik secara paralel di rumah?"
3.      Teknik membimbing/ teknik probing
              Penggunaan teknik probing/beberapa pertanyaan berseri yang terprogram, saling berhubungan dan berkesinambungan agar konpetensi siswa dapat tercapai. Pengertian probing dalam pembelajaran di kelas didefinisikan sebagai suatu teknik membimbing dengan mengajukan satu seri pertanyaan pada seorang siswa. Wijaya (dalam Supriyadi, 2009) menjelaskan teknik probing adalah suatu teknik dalam pembelajaran dengan cara mengajukan satu seri pertanyaan untuk membimbing pebelajar/siswa menggunakan pengetahuan yang telah ada pada dirinya guna memahami gejala atau keadaan yang sedang diamati sehingga terbentuk pengetahuan baru.
Dengan teknik bertanya membimbing, guru mengajukan satu seri pertanyaan pada seorang murid dengan tujuan untuk meningkatkan respon pertama murid itu menuju ke jawaban benar atau lebih luas.
Contoh pertanyaan membimbing:
Guru    :  "Anak-anak, perhatikanlah gelas berisi es di hadapan kalian. Periksalah bagian luarnya, apakah bagian luar gelas, basah?"
Siswa   : "Basah, Pak!"
Guru    : "Dari mana asalnya air yang menempel tersebut?"
Siswa   : "Dari dalam gelas?"
Guru   : " Jika air yang menempel pada dinding luar gelas berasal dari dalam gelas, sekarang Bapak akan tambahkan gula. Bagaimana rasa air yang menempel pada bagian luar gelas tersebut?"
Siswa    : "Manis, pak!!"
Guru     : "Coba kalian rasakan!, benarkah manis?"
Siswa    : "Tidak, Pak!"
Guru     : "Kalau begitu, apakah air berasal dari dalam gelas?"
Siswa   : "Bukan, Pak!"
Guru    : "Dari mana? (siswa tidak ada yang menjawab). Baiklah, apakah kalian masih ingat di udara ini terdapat gas atau uap apa saja?" (Siswa diarahkan agar akhirnya menjawab: ada uap air)
Guru     : "Apakah uap air itu dapat berubah menjadi air? Dengan cara apa?
Siswa    : "Dapat, Pak! Dengan cara didinginkan
Demikian seterusnya guru mengajukan pertanyaan yang harus disusun oleh pembaca, hingga akhirnya siswa mengetahui bahwa air pada dinding luar gelas berasal dari pengembunan uap air karena didinginkan oleh es yang ada di dalamnya

4.      Teknik pelacakan.
Teknik melacak adalah sejumlah seri pertanyaan yang dimaksudkan guru untuk mengetahui sejauh mana penguasaan murid terhadap suatu permasalahan. Pertanyaan melacak diberikan jika jawaban yang diberikan peserta didik masih kurang tepat. Menurut Kusuma wardani (2007) sedikitnya ada tujuh teknik pertanyaan pelacak, yaitu klarifikasi, meminta peserta didik memberi alasan, meminta kesepakatan  pandangan, meminta ketepatan jawaban, meminta jawaban yang lebih relevan, meminta contoh, dan meminta jawaban yang lebih kompleks. Ketujuh hal tersebut dijelaskan berikut ini:
a.       Klarifikasi Jika jawaban yang diajukan peserta didik belum begitu jelas, maka guru dapat melacak jawaban peserta didik dengan pertanyaan lanjutan atau pertanyaan lacakan agar peserta didik tersebut mengungkapkan kembali dengan kalimat lain.
Misalnya :  
Ø  Apakah kamu dapat mengungkapkan kembali dengan kalimat lain ?  
Ø  Apakah kamu dapat mengungkapkannya dengan kalimat yang singkat?
b.      Meminta peserta didik memberikan alasan. Pertanyaan ini diajukan guru untuk meminta peserta didik memberikan alasan terhadap jawaban yang diajukannya. Hal ini dimaksudkan untuk mendukung jawaban yang telah dikemukakannya.
Misalnya :
Ø  Apakah kamu dapat memberikan alasan yang menunjang jawaban tersebut? 
Ø  Apakah kamu dapat memberikan contoh yang menunjang jawaban tersebut? 
Ø  Apakah kamu dapat mengajukan bukti yang mendukung jawaban tersebut?
c.       Meminta kesepakatan jawaban. Pertanyaan ini diajukan kepada peserta didik lain untuk memperoleh kesepakatan bersama tentang jawaban yang telah diajukan.
Misalnya :
Ø  Apakah kalian setuju dengan jawaban Diana ? 
Ø  Siapa yang memiliki pendapat lain ? 
Ø  Siapa yang tidak seruju dengan jawaban tadi ? 
d.      Meminta ketepatan jawaban. Apabila jawaban yang diajukan peserta didik belum mencapai sasaran yang diharapkan, maka guru dapat mengajukan pertanyaan lanjut untuk memperoleh jawaban yang lebih tepat.
Misalnya :
G : Siapakah yang memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia ?
P : Soekarno dan Hatta 
G : Apakah atas namanya sendiri ?
P : Tidak, tetapi atas nama bangsa Indonesia, dan seterusnya. 
e.       Meminta jawaban yang lebih relevan. Jika jawaban yang diajukan oleh peserta didik kurang relevan dengan materi standar, maka guru dapat mengajukan pertanyaan lanjutan memperoleh  jawaban yang lebih relevan.
Misalnya :
G : (Guru baru saja menerangkan masalah banjir yang melanda beberapa wilayah, lalu ia mengajukan pertanyaan kepada peserta didk). Apakah yang menyebabkan terjadinya banjir ?
P : Penjualan kayu kepada oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab
G : Bagaimana hubungan jawabanmu itu dengan banjir yang telah kita  bahas tadi? dan seterusnya . 
f.       Meminta contoh. Jika pertanyaan yang diajukan peserta didik belum jelas maksudnya, maka guru dapat mengajukan pertanyaan lanjutan untuk meminta contoh atau ilustrasi atas jawaban yang diajukannya.
Misalnya :
G : Apakah kamu dapat memberikan contohnya?
Apakah ada peristiwa yang mendukung jawabanmu itu ? dll.
g.      Meminta jawaban yang lebih kompleks. Jika pertanyaan yang diajukan peserta didik masih sederhana, maka guru dapat memberikan pertanyaan lanjutan untuk memperoleh jawaban yang lebih luas.
Misalnya :
Ø  Apakah kamu dapat memberikan jawaban yang lebih luas lagi ?  
Ø  Apakah kamu dapat melengkapi jawabanmu itu ?

DAFTAR PUSTAKA

Dedi Purwanto. 2008. Pemanfaatan Pemodelan Pertanyaan Oleh Guru Untuk Meningkatkan Kemampuan Siswa Dalam Mengajukan Pertanyaan Produktif Untuk Mendukung Pembelajaran Ipa Berbasis Inkuiri. http://dedipurwanto.blogspot.com/



Haryanto. 2011. Keterampilan Bertanya dalam Pembelajaran IPA http://pakteha.blogspot.com/search/label/BERANDA


Kusuma Wardani. 2007. Keterampilan bertanya. http://www.academia.edu/Documents/in/Keterampilan_Bertanya


Nana Sumarna. 2011. Implementasi Penerapan Keterampilan Bertanya Pada Pembelajaran Ipa Di Sekolah Dasar. http://nanasumarna11a.blogspot.com/

 

Nurhayati B, 2011. Strategi Belajar Mengajar. Makassar: Badan Penerbit Universitas Negeri Makassar.


P.E. Bloser. 1973. Hand Book Of Effective Quesstion Techniques. Colombus Ohio. The Ohio State University

 

 

Supriyadi. 2009. Memperkenalkan (kembali) Teknik Probing dalam Pembelajaran IPA di SD/MI. https://apakabarpsbg.wordpress.com/2009/07/




Menerapkan keselamatan kerja dalam melakukan pengamatan gejala-gejala alam

Minggu, 08 April 2012


Keselamatan Kerja dalam pengamatan


Keselamatan kerja dalam laboratorium mencakup cara penyimpanan, pemakaian, dan perawatan alat atau bahan laboratorium, serta langkah pertolongan/penanggulangan kecelakaan. Laboratorium yang baik selalu dilengkapi dengan tempat penyimpanan. Alat/bahan sesuai dengan sifat atau jenis alat/bahan tersebut.
Khususnya bahan kimia yang mudah menguap, mudah terbakar, beracun atau berbahaya harus memiliki tempat khusus yang tertutup atau dilengkapi dengan cerobong uap. Bahan kimia cair sebaiknya tidak diletakkan di tempat yang lebih tinggi dari kepala kita sehingga mempersulit pengambilan dan harus disimpan dalam botol/wadah tertutup rapat, serta tidak terkena panas atau cahaya matahari secara langsung. Usahakan semua botol penyimpanan bahan berlabel untuk menghindari kekeliuran dalam pemakaian. Alat-alat yang rawan rusak atau rawan pecah disimpan dalam lemari tertutup dan aman. Biasakan segera mencuci tangan jika terkena atau setelah menggunakan bahan-bahan kimia cair maupun yang padat. Lebih aman gunakan sarung tangan karet. Jika bahan kimia mengenai mata, cucilah mata dengan air sebanyak-banyaknya sampai tidak terasa pedih. Pastikan selalu ada perlengkapan P3K dan alat pemadam kebakaran di laboratorium serta pahami cara penggunaannya.
Pada umumnya bahan kimia berbahaya dikelompokkan menjadi beberapa golongan, di antaranya:
  • Bahan kimia beracun (Toksin), yaitu bahan kimia yang dapat menyebabkan bahaya terhadap kesehatan manusia atau menyebabkan kematian apabila terserap ke dalam tubuh karena tertelan, lewat pernapasan, dan kontak dengan kulit. Contohnya senyawa logam, bahan pelarut, gas beracun, dan pestisida.
  • Bahan kimia korosif, yaitu bahan kimia yang karena reaksinya mengakibatkan kerusakan apabila kontak dengan jaringan hidup atau bahan lainnya.
  • Bahan mudah terbakar, yaitu bahan kimia yang mudah bereaksi dengan oksigen dan menimbulkan kebakaran.
  • Bahan peledak, yaitu bahan kimia yang bereaksi dengan bahan lainnya sehingga menghasilkan atau adanya gas dalam jumlah besar dan bertekanan tinggi disertai suhu yang tinggi



Bahan-bahan kimia yang terdapat dalam laboratorium perlu kamu kenali dengan baik kegunaan dan bahaya yang ditimbulkannya sehingga kamu tidak salah dalam menggunakan/ memperlakukan bahan-bahan kimia. Bahan-bahan kimia di laboratorium biasanya dikelompokkan berdasarkan sifatnya. Tempat/wadah bahan kimia berbahaya diberi simbol/lambing yang menggambarkan bahaya yang dapat ditimbulkan. Berhatihatilah bila kamu bekerja menggunakan bahan-bahan kimia tersebut. kita harus mengetahui sifat-sifat dari semua bahan-bahan kimia. Adapun sifat-sifat bahan-bahan kimia antara lain: bersifat racun, korosif atau mudah terbakar. Oleh karena itu, bahan-bahan ini disimpan dan dikemas dalam botol/wadah yang diberi label dan simbol tertentu. Beberapa simbol dan cara penanganannya dapat dilihat dalam bentuk tabel berikut
a.       Simbol bahan radioaktif dan beracun

b.      Simbol bahan mudah terbakar

c.       Simbol bahan mudah meledak dan korosif


Kode Risiko atau Bahaya
Untuk mempermudah mengenal bahaya atau risiko, digunakan lambang huruf R yang diikuti oleh nomor, dan tiap nomor memiliki arti tersendiri. Contohnya:
R 1                  = Eksplosif bila kering
R 2                  = Eksplosif bila berbenturan
R 22                = Beracun bila tertelan
R 23                = Beracun bila terhisap
R 26                = Racun sekali terhisap
R 40                = Cacat tetap
R 36/37           = Iritasi pada alat pernapasan dan mata
R 38/38           = Iritasi pada kulit mata

Kode Usaha Keamanan
Kode usaha keamanan, yaitu usaha yang harus dilakukan agar
tidak timbul kecelakaan, diberi tanda huruf S. Tanda huruf S diikuti oleh nomor yang memiliki arti tersendiri. Contohnya:
S 1       = Jaga selalu tertutup
S 2       = Jauhkan dari anak-anak
S 16     = Jangan merokok
S 20     = Bila menggunakan jangan makan
S 7/8    = Tutup dan tetap kering
S 34     = Hindari dari benturan
S 39     = Pakai pelindung mata
S 37     = Pakai sarung tangan

Untuk menghindari dan mengurangi kecelakaan dan bahaya dari bahan-bahan yang beracun itu, perlu kita perhatikan sikap kita terhadap bahan-bahan tersebut dengan cara:
·         Menggunakan bahan kimia secukupnya menurut yang dianjurkan.
·         Mengembalikan ke asalnya apabila sudah tidak digunakan lagi.
·         Mengambil bahan kimia dari botol harus menggunakan pipet yang bersih.
·         Hati-hati saat mengambil, membawa dan meletakkan
·         Harus memperhatikan sistem label pada botol yang digunakan.

Penggunaan mikroskop dan peralatan pendukung lainnya untuk mengamati gejala-gejala kehidupan


Mikroskop
     
Makhluk hidup atau bagian dari makhluk hidup itu terlalu kecil untuk dapat diamati oleh penglihatan kita, sehingga kita memerlukan alat bantu berupa mikroskop untuk dapat mengamatinya. Mikroskop merupakan alat bantu penglihatan untuk mengamati objek berukuran renik sehingga objek kelihatan lebih besar dan jelas. Mata telanjang hanya dapat memisahkan dua buah titik berdekatan yang berjarak 10–3 – 10–1 mm. Dengan bantuan lup, kamu dapat memisahkan dua buah titik berdekatan yang berjarak 10–4 – 10–2 mm. Jika kamu mengamati objek dengan mikroskop optik, dua buah titik yang berjarak 10–6 – 10–4 mm. Jadi sebuah sel yang berukuran 1/100.000 mm dapat kamu amati dengan mikroskop optik.
Mikroskop (bahasa Yunani: micron = kecil dan scopos = tujuan) adalah sebuah alat untuk melihat objek yang terlalu kecil untuk dilihat dengan mata telanjang. Mikroskop mula-mula dikembangkan oleh Antonie Van Leuwenhoek (1632–1723). Mikroskop pertama ini susunannya masih sangat sederhana, yaitu hanya terdiri dari sebuah lensa cembung. Perbesaran yang dihasilkan maksimum 300 kali. Mikroskop modern disusun minimal oleh dua buah lensa, yaitu lensa objektif dan lensa okuler. Di laboratorium kamu akan menjumpai lensa objektif dan lensa okuler bukan berupa lensa tunggal, tetapi berupa susunan lensa. Perbesaran yang dihasilkan mikroskop optik modern mencapai 1.250 kali.
Saat ini telah dikembangkan berbagai jenis mikroskop untuk berbagai keperluan. Mikroskop yang tersedia di laboratorium sekolahmu biasanya berupa mikroskop cahaya biasa. Mikroskop jenis yang lain misalnya mikroskop stereo (mempunyai dua okuler, sehingga dapat diamati dengan dua mata), mikroskop fotografi (dilengkapi dengan kamera untuk memotret), mikroskop fase (untuk mengamati struktur mineral), mikroskop ultraviolet (menggunakan sumber cahaya ultraviolet), dan mikroskop elektron (menggunakan berkas electron sebagai pembawa citra gambar. Dengan mikroskop elektron, perbesaran yang diperoleh dapat mencapai 100.000 kali.
Perhatikan gambar mikroskop dengaan bagian bagiannya:

Bagian bagian Mikroskop

  • Tubus/tabung mikroskop, berupa tabung kosong yang dapat dinaik-turunkan untuk mengatur fokus.
  • Lensa objektif, terletak di bagian bawah tabung mikroskop. Berfungsi untuk menghasilkan bayangan benda yang sedang diamati. Lensa ini tersedia dalam berbagai ukuran pembesaran, biasanya 5x, 10x, dan 12,5x.
  • Lensa okuler, terletak di bagian atas tabung mikroskop. Fungsinya untuk memperbesar bayangan yang dibentuk oleh lensa objektif. Lensa ini tersedia dalam berbagai ukuran pembesaran, biasanya 4x, 10x, 40x, dan 100x.
  • Revolver, adalah alat yang dapat berputar untuk memilih ukuran lensa objektif yang akan digunakan.
  • Makrometer (tombol pengatur kasar), adalah tombol pengatur fokus bayangan dengan menaik-turunkan tabung mikroskop dengan cepat.
  • Mikrometer (tombol pengatur halus), adalah tombol pengatur fokus bayangan dengan menaik-turunkan tabung mikroskop dengan jarak pergeseran yang lebih rapat dibandingkan makrometer.
  • Pegangan mikroskop, merupakan bagian lengan yang dipegang ketika mikroskop akan dipindahkan.
  • Meja preparat, tempat meletakkan preparat yang akan diamati.
  • Penjepit objek, yaitu penjepit preparat agar kedudukannya tidak bergeser ketika sedang diamati.
  • Diafragma, berupa lubang yang berfungsi untuk mengatur banyak sedikitnya cahaya yang dibutuhkan dalam pengamatan.
  • Kondensor (pemusat cahaya), terdiri dari seperangkat lensa yang berfungsi untuk mengatur intensitas cahaya.
  • Cermin, berfungsi untuk mengarahkan cahaya agar dapat masuk diafragma dan kondensor. Biasanya tersedia dua cermin (permukaan datar dan cekung). Kedua cermin dapat dipakai bergantian sesuai dengan kondisi cahaya ruangan. Pada ruangan yang terang cukup menggunakan cermin yang datar, namun bila cahaya ruangan redup dapat digunakan cermin cekung. Ada juga jenis mikroskop yang menggunakan sumber cahaya dari lampu listrik, sehingga pengamatan tidak tergantung pada kondisi pencahayaan ruangan.
  • Kaki mikroskop, merupakan bagian paling bawah yang berfungsi untuk mengokohkan kedudukan mikroskop.



Macam Macam Mikroskop
Bentuk dan jenis mikroskop berkembang sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Mikroskop yang paling sederhana adalah mikroskop cahaya, mikroskop stereo sampai yang modern seperti mikroskop elektron. Semakin modern, perbesaran yang dihasilkan semakin besar dan rinci. Berdasarkan pada kenampakan objek yang diamati, mikroskop dibagi dua jenis, yaitu mikroskop dua dimensi (mikroskop cahaya) dan mikroskop tiga dimensi (mikroskop stereo). Berdasarkan sumber cahayanya, mikroskop dibedakan menjadi mikroskop cahaya dan mikroskop elektron.
a.      Mikroskop Cahaya
Mikroskop cahaya mempunyai perbesaran maksimum 1000 kali. Mikroskop jenis ini memiliki tiga lensa, yaitu lensa objektif, lensa okuler, dan kondensor. Lensa objektif dan lensa okuler terletak pada kedua ujung tabung mikroskop. Lensa okuler pada mikroskop ada yang berlensa tunggal (monokuler) atau ganda (binokuler). Lensa kondensor berperan untuk menerangi objek dan lensa-lensa mikroskop lain. Dengan pengaturan yang tepat maka akan diperoleh daya pisah maksimal.

b.      Mikroskop Stereo
Mikroskop stereo merupakan jenis mikroskop yang hanya bisa digunakan untuk benda yang relatif besar dengan perbesaran 7 hingga 30 kali. Benda yang diamati dengan mikroskop ini dapat terlihat secara tiga dimensi. Komponen pada mikroskop stereo hampir sama dengan mikroskop cahaya. Perbedaannya pada ruang ketajaman lensa mikroskop stereo jauh lebih tinggi dibandingkan dengan mikroskop cahaya sehingga kia dapat melihat bentuk tiga dimensi benda yang diamati

c.       Mikroskop Elektron
Mikroskop elektron mempunyai perbesaran sampai 100 ribu kali. Elektron digunakan sebagai pengganti cahaya. Ada dua tipe pada mikroskop elektron, yaitu mikroskop elektroscanning (SEM) dan mikroskop elektron transmisi (TEM).

Cara Penggunaan Mikroskop
Sebenarnya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan mengenal cara perawatan dan penggunaan mikroskop. Mikroskop disimpan di dalam kotak yang sebelumnya dibungkus oleh plastik. Apabila mikroskop sudah digunakan segara bersihkan kembali segala kotoran yang ada dengan cara dilap dengan kain halus, kemudian kembalikan ke kotak asalnya, dengan kondisi lensa objektif yang memiliki perbesaran lemah dan keadaan mikroskopnya tegak.
Cara penggunaannya sebagai berikut:


Membawa mikroskop dengan cara tangan kanan memegang bagian lengan mikroskop dan     tangan kiri memegang kaki mikroskop.

  • Letakkan mikroskop di tempat yang datar, kering, dan memiliki cahaya yang cukup.
  • Pasang lensa okuler dengan lensa yang memiliki ukuran perbesaran sedang.
  • Putar revolver untuk memilih lensa objektif dengan perbesaran paling kecil.
  • Putar makrometer untuk menjauhkan lensa objektif dengan meja mikroskop.
  • Aturlah diafragma agar lensa mendapatkan cahaya yang cukup.
  • Aturlah cermin yang sesuai dengan kondisi cahaya ruangan. Cermin datar  digunakan jika kondisi ruangan cukup terang, sedangkan cermin cekung digunakan saat kondisi ruangan kurang cahaya (redup).
  • Siapkan preparat yang akan diamati, letakkan pada gelas benda di atas lubang meja mikroskop, kemudian kokohkan dengan penjepit objek.
  • Putar makrometer perlahan-lahan sehingga lensa objektif berada pada posisi terdekat dengan meja mikroskop.
  • Amati preparat melalui lensa okuler sambil memutar makrometer untuk menemukan bayangan. Untuk mengatur fokus, gunakan mikrometer sehingga diperoleh bayangan yang jelas.
  • Jika letak preparat belum tepat, gelas benda dapat digeser dengan lengan yang berhubungan dengan penjepit. Jika tidak tersedia, preparat dapat digeser secara langsung.
  • Gunakan perbesaran lensa objektif yang lebih kuat untuk mengamati preparat dengan lebih jelas.

Membuat Preparat
Benda apat diamati dengan syarat benda itu harus transparan. Oleh karena itu benda yang akan diamati harus dipersiapkan dulu dengan membuat preparat atau sediaan. Alat dan bahan yang harus disiapkan dalam pembuatan preparat adalah gelas benda, penutup gelas, air secukupnya, pipet tetes dan silet. Silet berfungsi untuk menyayat benda yang akan diamati. Gelas benda berfungsi untuk meletakkan objek gelas yang akan diamati. Penutup gelas berfungsi untuk menutup benda yang diletakkan pada gelas benda.

Preparat dapat diamati secara melintang maupun membujur. Preparat melintang dibuat dari hasil sayatan secara melintang, sedangkan preparat membujur dibuat dengan sayatan arah membujur. Berikut ini langkah-langkah untuk membuat preparat melintang batang.

  • Siapkan batang yang akan diamati. Pilihlah batang yang cukup lunak sehingga mudah diiris dengan silet.
  • Iris batang dengan silet secara melintang ke arah tubuh setipis mungkin. Untuk preparat yang tipis seperti daun, kamu dapat menyelipkan daun pada potongan wortel atau gabus yang telah dibelah, kemudian mengirisnya bersamaan
  • Letakkan hasil sayatan pada objek gelas dan tetesi dengan air. Jika diperlukan, kamu dapat menambahkan pewarna untuk memperjelas objek.
  • Tutup dengan gelas penutup perlahan-lahan. Usahakan agar tidak terbentuk gelembung udara. Keringkan air yang berlebihan di sekitar kaca penutup dengan kertas isap.
  •  Preparat siap untuk diamati dengan mikroskop
sumber

Asep, Suriyatna. 2009. Ilmu Pengetahuan Alam Untuk SMP dan Mts Kelas VII.Jakarta; Pusat Perbukuan Depatremen Pendidikan Nasional

Pratiwi.dkk.2004. Buku Penuntun Biologi SMA untuk Kelas I. Jakarta; Erlangga.

Wasis, dan Sugeng Yuli Irianto. 2008 Ilmu Pengetahuan Alam Jilid I Untuk SMP dan Mts Kelas VII.Jakarta; Pusat Perbukuan Depatremen Pendidikan Nasional

Winarsih. 2008. IPA Terpadu SMP/Mts Kelas VII.Jakarta; Pusat Perbukuan Depatremen Pendidikan Nasional.

Zaepuddin Arahim et al. 2009. Ilmu Pengetahuan Alam SMP/Mts Kelas VII.Jakarta; Pusat Perbukuan Depatremen Pendidikan Nasional