Features Title Here. Consectetur adipisicing

Features Content Here. Sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

Pengamatan objek secara terencana dan sistematis untuk memperoleh informasi gejala alam biotik dan abiotik

Minggu, 08 April 2012



Pengamatan  Gejala  Alam Biotik dan Abiotik


Gejala adalah suatu keadaan yang menandakan akan terjadi sesuatu. Gejala alam adalah suatu keadaan dari alam yang menandakan akan terjadi sesuatu pada alam. Gejala alam ini meliputi gejala alam biotik dan abiotik. Gejala alam dapat diamati pada beberapa aktivitas berupa gunung meletus, gempa, erosi, banjir, kekeringan, kemarau, hujan, awan, iklim, cuaca, kelembapan, arah angin, kecepatan angin, keadaan tanah, keadaan udara, bau, berkembang biak, bernapas, makan dan minum, bertambah besar, tumbuh, dan sebagainya. Alam ini dibagi ke dalam dua golongan, yaitu:



1)  alam yang memiliki gejala kehidupan sehingga anggotanya dapat menjalani kehidupan. Manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroorganisme disebut biotik.
2)    alam yang tidak memiliki gejala kehidupan, sehingga anggotanya tidak menjalani kehidupan, seperti tanah, air, cahaya, suhu, iklim, cuaca, kelembapan, udara, dan berbagai makhluk tak hidup lainnya. Kelompok makhluk tak hidup ini disebut abiotik.



         Di alam semesta ini, manusia tidak hidup sendiri, melainkan hidup berdampingan dan saling berinteraksi dengan lingkungannya. Bila kita cermati, lingkungan terdiri dari makhluk hidup (lingkungan biotik) maupun berupa makhluk tak hidup (lingkungan abiotik). Batu dan kerikil yang berserakan di halaman rumah merupakan komponen abiotik begitu pun dengan tanah dan udara, sedangkan kupu-kupu, burung, dan rumput dan bunga merupakan komponen biotik.

       Dengan demikian, berdasarkan objeknya, gejala alam dapat dibedakan menjadi dua yaitu gejala alam biotik dan gejala alam abiotik. Gejala alam dapat berupa gejala kejadian dan gejala kebendaan. Gejala alam kejadian merupakan peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam seperti terjadinya hujan, kebakaran, perkaratan, pengendapan, ke-lahiran, metamorfosis, pernapasan, dan sebagainya. Sedangkan gejala alam kebendaan menunjukkan benda-benda yang ada di alam seperti tanah liat, besi, kapur, burung, siput, pohon mangga, dan sebagainya. Di alam ini, banyak gejala abiotik yang menyebabkan timbulnya gejala abiotik baru, demikian juga banyak pula gejala alam biotik yang menyebabkan timbulnya gejala biotik baru. Contohnya gejala alam panas matahari menyebabkan air menguap, uap air di udara berkumpul membentuk awan, ketika awan telah jenuh, akan turun menjadi hujan. Selain itu ada pula gejala alam abiotik yang mempengaruhi gejala alam biotik atau sebaliknya. Contohnya fotosintetis yang dipengarihi oleh gejala abiotik.
          Dalam mengamati gejala biotik dan abiotik perlu melakukan percobaan atau penelitian yang melakukan pendekatan yang disebut metode ilmiah atau keterampilan proses IPA atau sains, yaitu seperangkat keterampilan yang dilakukan untuk suatu penyelidikan ilmiah. Melalui  keterampilan ini kita dapat mengetahui bagaimana caranya untuk mengumpulkan fakta dan menghubungkan fakta-fakta untuk membuat suatu penafsiran atau kesimpulan. Keterampilan ini juga merupakan keterampilan belajar sepanjang hayat yang dapat digunakan bukan saja untuk mempelajari berbagai macam ilmu tetapi juga dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

 Adapun langkah langkah dari metode ilmiah

1. Merumuskan masalah
Penelitian dimulai dengan merumuskan masalah. Masalah adalah sesuatu yang akan diteliti dan dipecahkan. Masalah biasanya berupa pertanyaan ilmiah yang dapat dijawab dengan melakukan percobaan. Penelitian eksperimen perlu memiliki rumusan masalah, sedangkan penelitian pengamatan harus memiliki pertanyaan penelitian. Berikut adalah panduan yang dapat digunakan rumusan masalah untuk penelitian eksperimen:

  • Rumusan masalah harus mempertanyakan hubungan antara dua variable atau lebih
  • Rumusan masalah harus dinyatakan secara jelas dan tidak menimbulkan penafsiran ganda, umumnya dalam bentuk pertanyaan.
  • Rumusan masalah itu harus di jawab dengan pengamatan, yaitu rumusan masalah tersebut memungkinkan untuk mengumpulkan data yang menjawab masalah tersebut.
  • Pertanyaan penelitian harus mempertanyakan karakteristik variable, gejala atau objek yang diamati.
  • Pertanyaan penelitian harus dinyatakan secara jelas dan tidak menimbulkan penafsiran ganda.
  • Pertanyaan penelitian harus dapat dijawab secara empiric atau dengan pengamatan, yaitu pertanyaan penelitian itu memungkinkan untuk pengumpulkan data yang menjawab pertanyaan tersebut.
Contoh rumusan masalah:“Adakah pengaruh pemberian pupuk urea terhadap pertumbuhan tanaman kacang hijau”


2. Menyusun hipotesis


        Setelah merumuskan masalah, sebagai peneliti harus menyusun dugaan-dugaan yang bersifat ilmiah berdasarkan bukti-bukti dan fakta-fakta yang ada. Dugaan-dugaan yang bersifat ilmiah ini dinamakan hipotesis. Hipotesis merupakan jawaban sementara dari rumusan masalah yang diajukan. Hipotesis itulah uang akan dibuktikan kebenarannya melalui data yang akan di dapat.
Contoh hipotesis dari rumusan masalah di atas:“Terdapat pengaruh positif pemberian pupuk urea terhadap pertumbuhan tanaman kacang hijau”

3.      Melakukan percobaan

           Setelah menyusun hipotesis, kebenaran hipotesis harus diuji dengan melaksanakan penelitian. Kegiatan penelitian ini dapat kamu laksanakan di dalam laboratorium ataupun di luar laboratorium. Hal ini bergantung pada jenis penelitian yang kamu lakukan. Jika kamu melaksanakan penelitian di dalam laboratorium, kamu harus memahami pedoman keselamatan kerja di laboratorium. Demikian juga jika penelitian dilaksanakan di luar laboratorium, kamu harus mengetahui pedoman keselamatan kerja di daerah tersebut. Sebelum penelitian dilakukan, perlu mempersiapkan alat-alat atau bahan-bahan yang akan gunakan pada saat penelitian. Alat-alat harus diperiksa sebelum digunakan untuk memastikan alat-alat tersebut dapat berfungsi dengan baik.

4.      Mengumpulkan data
        Ketika penelitian kamu lakukan, kamu akan memperoleh data. Setiap gejala yang terjadi selama percobaan, catat hasilnya dengan rapi dan susun dengan baik. Dengan demikian kamu akan memperoleh data yang benar dan akurat. Data yang diperoleh dapat berupa data kualitatif maupun kuantitatif. Data kualitatif  adalah data yang diperoleh dengan menggunakan alat indra, tanpa menggunakan alat ukur dan tidak dapat dinyatakan dengan angka. Data kuantitatif yaitu data yang diperoleh melalui pengamatan dengan alat ukur dan dapat dinyatakan dengan angka. Eksperimen atau percobaan dalam metode ilmiah mengenal adanya variabel dan pembanding. Pembanding adalah suatu perangkat percobaan. Variabel adalah faktor yang memengaruhi percobaan. Variabel ada empat macam, yaitu sebagai berikut.
a)      Variabel kontrol, yaitu faktor yang dibuat sama
b)      Variabel bebas, yaitu faktor yang sengaja diubah
c)      Variabel terikat, yaitu faktor yang dipengaruhi oleh variable bebas dan variabel kontrol
d)     Variabel pengganggu, yaitu faktor yang dapat memengaruhi hasil percobaan.
Setelah melakukan pengamatan dan percobaan, maka hasil pengamatan atau percobaan tersebut hendaknya diinformasikan secara terbuka dengan menyusun secara tertulis maupun secara lisan. Penyajian data hasil percobaan dapat disusun dalam bentuk deskripsi (uraian), tabel, ataupun grafik.


5.      Mengolah dan menganalisis data

        Setelah data-data hasil penelitian terkumpul, kelompokkanlah data sesuai jenis atau keperluan penelitian. Kemudian, data dianalisis untuk mengetahui apakah hipotesis yang kamu kemukakan sesuai atau dapat diterima ataukah justru bertentangan atau tidak sesuai. Jika hipotesis kamu sesuai dengan data-data percobaan yang kamu dapatkan, berarti hipotesis diterima. Sebaliknya, jika hipotesis kamu tidak sesuai dengan data-data yang kamu dapatkan, berarti hipotesis ditolak. Hipotesis yang berbeda dengan data-data yang diperoleh dari hasil percobaan, bukan berarti kamu gagal. Akan tetapi, ada masalah yang belum dapat terjawab dari percobaan yang kamu lakukan. Oleh karena itu, jika hipotesis yang kamu buat tidak sesuai, maka hipotesis perlu diperbaiki dan penelitian perlu diulang kembali dengan cara memperbaiki hipotesis.
 6.      Membuat kesimpulan
            Pada kegiatan penyusunan kesimplan, kamu harus menarik kesimpulan dan saran berdasarkan analisis data dan pembahasan. Kesimpulan harus mengacu pada rumusan masalahnya. Misalnya pemberian jumlah atau kadar pupuk urea terhadap pertumbuhan tanaman kacang hijau.


Menulis Laporan Penelitian
Sebagai dokumentasi dan alat komunikasi hasil penelitian, laporan penelitian penting untuk di buat, salah satu sistematiak penulisan laporan penelitian adalah sebagai berikut:


BAB I PENDAHULUAN
A.             Latar Belakang
B.              Rumusan Masalah
C.              Tujuan Penelitian
D.             Manfaat Penelitian
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A.             Kajian Teori
B.              Kajian dan hasil hasil penelitian
C.              Rumusan Hipotesis
BAB III METODE PENELITIAN
A.             Variable dan Definisi Operasional Variabel
B.              Rancangan penelitian
C.              Sasaran Penelitian (Populasi dan Sampel)
D.             Instrument,Alat, dan Bahan
E.              Prosedur pelaksanan Penelitian
F.               Rencana Analisis Data
G.             Jadwal penelitian
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
A.             Deskripsi data
B.              Interpretasi Data
C.              Uji Hipotesis
D.             Pembahasan
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A.             Kesimpulan
B.              Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN








sumber:



Asep, Suriyatna. 2009. Ilmu Pengetahuan Alam Untuk SMP dan Mts Kelas VII.Jakarta; Pusat Perbukuan Depatremen Pendidikan Nasional

Pratiwi.dkk.2004. Buku Penuntun Biologi SMA untuk Kelas I. Jakarta; Erlangga.

Wasis, dan Sugeng Yuli Irianto. 2008 Ilmu Pengetahuan Alam Jilid I Untuk SMP dan Mts Kelas VII.Jakarta; Pusat Perbukuan Depatremen Pendidikan Nasional

Winarsih. 2008. IPA Terpadu SMP/Mts Kelas VII.Jakarta; Pusat Perbukuan Depatremen Pendidikan Nasional.

Zaepuddin Arahim et al. 2009. Ilmu Pengetahuan Alam SMP/Mts Kelas VII.Jakarta; Pusat Perbukuan Depatremen Pendidikan Nasional

0 komentar:

Poskan Komentar